Lapas Narkotika Gunung Sindur Pertegas Peran Pemasyarakatan : Panen Raya Satu Ton Maggot, Bukti Warga Binaan Bangkit Jadi Penjaga Ketahanan Pangan

Lapas Narkotika Gunung Sindur kembali Pertegas Peran Pemasyarakatan. Dari balik tembok tinggi dan jeruji besi, sebuah pesan kuat digaungkan ke seluruh negeri: perubahan itu nyata. Melalui Panen Raya Serentak, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur menjelma menjadi pusat produktivitas pangan, dengan capaian mencengangkan — satu ton maggot berhasil dipanen, disusul 0,2 ton telur ayam serta hasil perikanan dan pertanian yang dihasilkan secara mandiri.

Panen raya ini bukan sekadar deretan angka, melainkan tamparan keras bagi stigma lama yang selama ini melekat pada lapas. Di tempat yang kerap dipandang sebagai akhir segalanya, justru tumbuh harapan baru. Lapas Narkotika Gunung Sindur membuktikan bahwa pembinaan yang tepat mampu mengubah warga binaan dari objek hukuman menjadi subjek pembangunan, dari beban menjadi kekuatan produktif bangsa.

Komoditas yang paling mencuri perhatian dalam panen raya kali ini adalah maggot dengan total produksi mencapai 1 ton. Limbah organik yang selama ini dipandang tak bernilai, diolah menjadi protein berkualitas tinggi yang menopang sektor peternakan dan perikanan. Dari sektor peternakan, Lapas Narkotika Gunung Sindur juga berhasil memanen 0,2 ton telur ayam, sementara sektor perikanan tak kalah produktif dengan panen ikan gurame, patin, dan lele yang masing-masing mencapai 0,5 kwintal. Deretan capaian ini menegaskan bahwa pembinaan kemandirian di dalam lapas berjalan nyata dan menghasilkan.

Tak berhenti di situ, lahan perkebunan di dalam Lapas Narkotika Gunung Sindur turut menyumbang hasil panen sayuran yang beragam. Mulai dari sawi 0,05 kwintal, kangkung 0,15 kwintal, selada merah 0,2 kwintal, hingga terong 0,1 kwintal berhasil dipanen. Seluruh komoditas tersebut menjadi bagian dari panen raya yang menunjukkan bagaimana ketahanan pangan tumbuh dan bergerak dari balik tembok pemasyarakatan.

Program ini menjadi wujud nyata pembinaan berbasis kemandirian yang dijalankan secara konsisten dan terarah. Setiap kilogram maggot, setiap butir telur, dan setiap ekor ikan adalah hasil kerja keras, perubahan pola pikir, serta kebangkitan mental warga binaan yang dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat dengan bekal keterampilan dan kepercayaan diri.
Tak berlebihan jika Lapas Narkotika Gunung Sindur kini disebut sebagai ikon kebangkitan lapas produktif. Dari balik tembok pemasyarakatan, lahir pesan kuat bagi Indonesia.
ketika diberi kesempatan, dibina dengan benar, dan diarahkan secara produktif, perubahan besar bukan hanya mungkin — tetapi tak terbendung.
Hari ini, Lapas Narkotika Gunung Sindur bukan sekadar memanen maggot, telur, ikan, dan sayuran.
Lapas Narkotika Gunung Sindur sedang memanen masa depan.



